Posted by: zackygharaidz | January 17, 2012

Memeras Alam, Menguras Air Mata

“Alam mulai kembali murka” hanya kata itulah yang dapat menyimpulkan berbagai fenomena bencana yang ada di Indonesia. Akhir-akhir ini, diberbagai daerah hujan mengguyur terus menerus sehingga mengakibatkan banyak sungai meluap dan menyebabkan banjir.

Sehingga banyak warga yang mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, akan tetapi dibeberapa daerah yang datarannya tinggi malah diserang oleh tanah longsor seperti Banyuwangi dan Karanganyar, yang membawa kayu tebangan menimpa perkampungan dan mengubur warga bersama tempat tingga mereka. Masyarakat dipesisir pantai, juga dihantui gelombang pasang dan ancaman tsunami. Lepas dari amukan Banjir, Tanah Longsor, dan Tsunami, Masyarakat malah juga dihantui oleh Angin Putting beliung yang juga ikut meramaikan bencana di Indonesia, yang tanpa pandang bulu juga menggulung habis rumah-rumah warga. Dan tak sedikit korban yang telah menjadi tumbal dari amukan alam tersebut. Seakan tak ada tempat aman bagi masyarakat Indonesia untuk melanjutkan hidupnya.

Hal tersebut menyebabkan lumpuhnya perekonomian dibeberapa daerah, pelayanan public terganggu sebab kantor pemda yang terendam air, padi dan ikan ditambak yang siap panen hilang terbawa arus banjir, dan juga kerugian materi lain yang tak terhitung jumlahnya, belum lagi korban jiwa yang meninggal dunia ataupun yang terkatung-katung di tenda-tenda pengungsian, Apalagi gangguan traumatic bagi korban luka dan lebih parah adalah beban anak yang ditinggal mati ayahnya, istri ditinggal suami, juga kakak yang ditinggal mati sang adik.

Jika ada disebagian kita yang menganggap itu semua adalah sebuah bencana yang diturunkan oleh tuhan pada kita. dan sebuah cobaan agar kita tetap sabar dan mengambil hikmah dibalik semua ini. tapi tanpa ada koreksi (muhassabah) pada apa yang kita perbuat terhadap alam tempat kita berada. Sebutan bodoh dan tak bermoral apa lagi yang cocok bagi orang seperti kita.

Semua kerusakan yang terjadi di daratan dan lautan adalah akibat ulah tangan manusia sendiri dan Al-qur’an telah menyebutkannya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Ruum : 41). Dan ternyata tidak ada yang bohong dalam Al-Qur’an, hal itu terbukti, dengan banyakknya hutan telah kita gunduli habis-habisan, penambangan minyak, batu, emas, gas dan lainnya, yang dilakukan tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam, Penangkapan ikan dilautan dengan bom dan pukat harimau sehingga rantai makanan terputus. Limbah industri dibuang di sungai-sungai, dilaut karena alasan biaya pengolahan terlalu mahal. Emisi gas buang Asap kendaraan dan pabrik-pabrik. Sampah dibiarkan menumpuk membusuk hingga bau tak sedap menyebar kemana-mana.

Semuanya itu adalah kelanjutan dari keserakahan manusia. Kita (manusia) menganggap alam lingkungan sebagai sesuatu yang diluar dari diri kita. Selama ini paradigma seperti itulah yang kita pakai. Sehingga perubahan paradigma kita mutlak harus dirubah demi menggali kembali hakekat penciptaan manusia dibumi ini.

Untuk aletrnatif konsep antroposentrisme (manusia sebagai pusat penciptaan) yang kita pakai sehingga kita bebas berbuat apa saja terhadap lingkungan bisa diganti lewat konsep Biosentrisme dan Ekosentrisme.

Biosentrisme

Konsep Biosentris ini mengemukakan bahwa setiap ciptaan tuhan mempunyai nilai intrinsik dan karena itu keberadaannya mempunyai relevansi moral. Dan moral ini tidak terbatas pada hanya manusia saja sehingga tercipta suatu kesatuan hidup (Biotic Community). Moral yang berlaku adalah “memelihara kelestarian dan mempertahankan adalah baik secara moral. Jika tidak, maka kebalikannya”.

Biosentris mempunyai tiga macam. Yang pertama dari Albert Schweizer peraih nobel lingkungan hidup dengan argumentasi moral “hidup sebagai pusat” (the life contered theory) yang terdiri dari empat prinsip etis. Yang pertama adalah; manusia sebagai anggota dari komunitas yang ada dibumi ini. Kedua adalah; bumi adalah system organik dimana manusia dan ciptaan lain (makhluk hidup) saling kait mengait. Ketiga adalah; setiap ciptaan dipersatukan oleh tujuan bersama demi kebaikan dan keseluruhan. Keempat; menolak superioritas manusai atas yang lain.

Yang kedua adalah “etika bumi” (land ethic) yang diajukan Aldo Leopold. Menurutnya, keutuhan seluruh makhluk ciptaan tidak bertentangan dengan kepentingan masing-masing ciptaan. Konservasi dan pengolahan dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan keharmonisan manusia bumi. Ia menambahkan tugas manusia adalah untuk menata dan memelihara meskipun tanpa menghilangkan kepentingan manusia akan alam.

Ketiga adalah perlakuan sama (equal treatment) dari Peter Singer. Pokok ajarannya adalah bahwa semua makhluk hidup (termasuk tumbuhan dan lainnya) mempunyai kepentingan dan tujuan. Maka kepentingan kita sayogyanya juga menghargai kepentingan makhluk hidup yang lain. Satu misal adalah reboisasi pada hutan.

Ekosentris

Paham yang dikemukakan Arne Naess ini tidak berbeda jauh dengan apa yang dipaparkan Biosentris. Tapi letak perbedaannya adalah bahwa ekosentris lebih menekankan pada keharmonisan manusia bersama dengan ciptaan yang lain (termasuk bukan makhluk hidup). Selain itu juga disini lebih bersifat praktis dan bukan hanya sekedar teoritis.

Yang utama bukanlah semata-mata pada manusia saja. Malainkan semuanya adalah bagian dari sesuatu yang masing-masing mempunyai tujuan dan saling mempengaruhi. Naess mengatakan kepentingan manusia bukanlah segala-galanya. Karena kepentingan manusia akan cenderung pada Eksploitasi dan kehancuran alam.

Kholifah di Bumi

Dalam surat al-Baqoroh ayat 30 dijelaskan bahwa manusia adalah Kholifah (pemimpin) dibumi ini. Tetapi bukan dalam artian Pemimpin (tuan) atas alam (hamba). Tetapi sebagai pengelola/pengatur alam dari konsekuensi akal yang diberikan untuk saling menuju pada tujuan penciptaan hidup masing. “kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia (tanpa tujuan) (Surat Shod ayat 27).

Selanjutnya manusia akan menjadi objek sekaligus subjek. Objek yang harus menaati aturan-aturan agar tidak saling merusak dan subjek dari pembuat aturan-aturan itu sendiri.

Sebagai insan yang terlahir dibumi ini, tidaklah cukup hanya dengan mengedepankan aspek ketuhanan saja (Habluminallah). Tetapi penanaman nilai hubungan dengan ciptaan tuhan lain (Habluminal alam) juga diperlukan selain hubungan dengan sesama manusia (Habluminannas). Ketiga-tiganya harus dijalankan sesuai dengan proporsi yang seimbang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: